Sepi dan Sendiri

Pernahkah anda merasa benar-benar merasa sangat kesepian yang amat sangat?

Itulah yang sedang kualami saat ini..

Bingung, sedih, galau.. Gak tau harus ngapain..

Pada akhirnya aku teringat pada salah seorang temanku yang semester kemarin gak pulang ke kampung halaman nya karena jauh dan biaya yang mungkin mahal untuk pulang ke kampung halamannya.. Mungkin kesepian dan kesendirian sama yang dia alami waktu itu sama seperti yang aku alami sekarang. Aku betanya-tanya? Mungkinkah ini yang sering dialami juga oleh mereka perantau yang jauh dari keluarga? Apa yang mereka lakukan saat sepi dan sendiri? Apakah mereka juga sering menangis? Atau ini hanya aku saja yang lebay? Apa aku terlalu cengeng? Aku hanya bisa merenung..

Lalu barulah aku sadar, barulah aku bisa bersyukur..

Betapa besar nikmat yang Allah berikan kepadaku.. Aku punya keluarga yang menyayangiku, bisa pulang kapan aja, kapanpun aku mau.Aku punya saudara, teman, sahabat..

Betapa berharganya mereka dalam hidupku.

Terutama keluarga. Saat senang maupun susah, saat bahagia maupun sedih, saat sehat maupun sakit, mereka akan selalu ada. Bersedia menerimaku apa adanya. Walaupun dengan berbagai kekurangan, seberapa besar pun kesalahan dan kekhilafan yang aku lakukan, keluarga adalah tetap keluarga. Mereka selalu menerimaku, bersedia mengulurkan tangan nya untuk ku.

Untuk keluargaku, maafkanlah diriku jika disaat kalian membutuhkanku aku sering tidak ada. Maafkan jika aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Maafkan jika aku malah lebih sering menghabiskan waktu untuk organisasi dibanding dengan kalian. Tapi saat aku berada pada kesibukan itu bukan berarti diriku lupa pada keluarga. Bukan berarti aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin sendiri ditampat perantauan ini, karena aku tau bagaimana rasanya kesepian dan kesendirian. Untuk waktu yang akan datang, aku akan berusaha untuk selalu ada. Ada disaat kalian membutuhkan diriku ataupun tidak, karena aku menyayangi kalian.

Bimbingan Sakaratul Maut Bagi Klien Muslim

A. Pengertian Sakaratul Maut

download1Istilah sakaratul maut berasal dari bahasa arab, yaitu “sakarat” dan “maut”. Sakarat dapat diartikan dengan “mabuk” sedangkan “maut” berarti kematian. Dengan demikian, sakaratul maut berarti orang yang sedang dimabuk dengan masa-masa kematiannya. Sakaratul maut juga dapat diartikan sebagai kebingungan, ketakutan, dan kedahsyatan saat sedang dicabut rohnya dari badan yang perlahan-lahan menjadi beku. Pertama kakinya dingin membeku, perlahan-lahan bergeser ke paha, sampai ke kerongkongan, kemudian mata terbelalak ke atas mengikuti lepasnya roh.

Sakaratul maut dan kematian merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan dan keduanya mempunyai fenomena tersendiri. Sakaratul maut merupakan suatu proses kematian, sedangkan kematian sendiri merupakan akhir dari kehidupan didunia dan awal menuju kehidupan akhirat. Proses kematian manusia tidak dapat diketahui atau digambarkan dengan jelas karena menyangkut segi fisik dan segi rohani. Dari segi fisik dapat diketahui secara klinis, yaitu seseorang dikatakan mati apabila pernafasannya dan denyut jantungnya berhenti. Dari segi rohani ialah proses roh manusia melepaskan diri dari jasadnya.

Kematian merupakan sunatullah yang sudah pasti akan kedatangannya, walaupun tidak ada yang tahu kapan dan dimana seseorang akan menghadapi kematian tersebut. Kata mati berarti tidak ada, gersang, tandus, kehilangan akal dan hati nurani, kosong, berhenti, padam, buruk, atau lepasnya ruh dari jasad. Berdasarkan keterangan-keterangan yang bersumber dari agama Islam, dapat diartikan bahwa kematian adalah berhentinya budidaya manusia pada alam pertama (dunia), yang nanti akan dilanjutkan kehidupannya pada alam kedua (alam akhirat). Ajaran agama menggambarkan konsepsi adanya pertalian alam dunia dan alam akhirat serta menggambarkan prinsip tanggung jawab manusia selama hidup di dunia. Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW, sebagai berikut :

“Apabila anak adam telah mati, maka terputuslah daripadanya budidayanya kecuali tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendo’akan kebaikan bagi kedua orang tuanya.”

Kematian akan menghampiri siapa saja yang bernyawa, sebagaimana dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an berikut ini :

Artinya : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (Q.S. Ali Imran :185)

B. Peran perawat dalam membimbing pasien yang sakaratul maut

sakratul-mautPeran perawat sangat komprehensif dalam menangani pasien karena peran perawat adalah memenuhi kebutuhan biologis, sosiologis, psikologis, dan spiritual klien.

Perawat professional harus memiliki visi transcendental nursing, yaitu perawat yang bertujuan tidak hanya kesejahteraan di dunia tetapi pengabdian dan perilakunya ditujukan untuk ibadah dan kesejahteraan akhirat (hereafter, afterlife, eternity).

  • Hereafter (akhirat, alam baka, negeri kekal)
  • Afterlife (akhirat, alam baka)
  • Eternity (kekekalan, keabadian, akhirat, kelanggengan)

Kenapa seorang perawat harus memiliki visi transcendental?

Allah SWT berfirman :

Artinya : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Q.S. Al-Ankabut ayat 64).

Rasulullah bersabda : “Kehidupan dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akherat seperti seseorang dari kalian mencelupkan telunjuk ke dalam lautan kemudian mengangkatnya, air yang menetes dari telunjuk tersebut itulah kehidupan dunia dan air yang ada di lautan itulah kehidupan akherat”. (Hadits Sahih Muslim)

Perawatan yang Holistik mempertimbangakan aspek Spirituality & religion pasiennya. Karena hal tersebut menjadi sumber : Kekuatan (energy), kedamaian (inner peace), ketabahan (inner strength), keyakinan & tata nilai (belief & values), tahu tujuan hidup (existensial reality), merasa dibimbing Allah (connectedness) dan keyakinan diri bahwa ada alam perhitungan (self transcendense).

Peran perawat sangat penting dalam membantu kebutuhan spiritual pasien muslim, diantaranya, membimbing shalat, membimbing membaca al-quran, membimbing berpuasa, membimbing berzikir, dan ibadah lainnya, bahkan ketika pasien akan meninggal peran perawat masih sangat penting yaitu berkewajiban untuk membimbing sakaratul maut agar pasien meninggal dengan keadaan yang bermartabat.

Aspek spiritual ini sangat penting terutama untuk pasien terminal yang didiagnosa harapan sembuhnya sangat tipis dan mendekati sakaratul maut. Menurut Dadang Hawari (1977,53) “Orang yang mengalami penyakit terminal dan menjelang sakaratul maut lebih banyak mengalami penyakit kejiwaan, krisis spiritual, dan krisis kerohanian sehingga pembinaan kerohanian saat klien menjelang ajal perlu mendapatkan perhatian khusus”.Pasien terminal biasanya dihinggapi rasa depresi yang berat, perasaan marah akibatketidakberdayaan dan keputusasaan. Dalam fase akhir kehidupannya ini, pasien tersebutselalu berada di samping perawat. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan spiritual dapat meningkatkan semangat hidup klien yang didiagnosa harapan sembuhnya tipis dan dapatmempersiapkan diri pasien untuk menghadapi alam yang kekal.

Menurut konsep Islam, fase akhir tersebut sangat menentukan baik atau tidaknyakematian seseorang dalam menuju kehidupan alam kekal dan perawat sendiri kelak akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT karena upaya pemenuhan kebutuhan pasien di rumah sakit mutlak diperlukan. Perawat hendaknya meyakini bahwa sesuai dengan ajaran islam dalam menjalani faseakhir dari kehidupan manusia di dunia terdapat fase sakaratul maut. Fase sakaratul mautseringkali di sebutkan oleh Rasulullah sebagai fase yang sangat berat dan menyakitkansehingga kita diajarkan do’a untuk diringankan dalam fase sakaratul maut.

Gambaran tentang beratnya sakaratul maut telah dijelaskan dalam Al Qur’an dan hadits. Allah SWT berfirman :

Artinya: “Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir serayamemukul muka dan belakang mereka serta berkata “rasakan olehmu siksa neraka yangmembakar (niscaya kamu akan merasa sangat nyeri)”. (Q.S. Al Anfal: 50).

Allah SWT juga berfirman dalam Q.S. Al-An’am ayat 93, yang artinya : ”Alangkah dasyatnya sekiranya kamu melihat diwaktu orang-orang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata) “keluarkanlah nyawamu!” Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”

Beberapa hadits tentang sakaratul maut :

  1. “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi).
  2. “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari).
  3. “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan ke dalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”. (Ka’b al-Ahbar, sahabat Rasulullah saw).
  4. “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).
  5. “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”. (Imam Ghozali).
  6. ‘Amr bin al-‘Ashberkata kepada anaknya saat sakaratul maut, “Wahai annakku! Demi Allah, seolah-olah ranting berduri dicabut dari kakiku sampai ke kepala.”
  7. Imam Ghazali berkata, “Sakaratul maut lebih dahsyat daripada pukulan pedang, lebih tajam dari mata gunting dan gergaji. Kalau satu urat saja ditarik dari tubuh manusia, niscaya ia akan menjerit kesakitan. Lalu bagaimana kalau yang ditarik dari tubuh itu ruhnya, yang tidak ditarik dari satu urat saja, tapi dari semuanya. Kemudian setiap anggota tubuhnya akan mati secara bertahap. Pertama kakinya terasa dingin, lalu kedua betisnya, kemudian kedua pahanya. Setiap anggota tubuh merasakan sekarat dan kepedihan sampai kerongkongannya. Pada saat itu terputuslah pandanganya dari dunia dan keluarganya, tertutup pintu taubatnya, dan penyesalan pun meliputi pikiranya.” (Ihya’ Ulumiddin: 4/419).
  8. “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri.” (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

Melihat betapa sakitnya sakaratul maut, maka perawat perlu melakukan upaya-upaya sebagai berikut :

  1. Membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT
  2. Mentalqinkan dengan Kalimat Laailahaillallah
  3. Berbicara yang Baik dan Do´a untuk jenazah ketika menutupkan matanya
  4. Membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut
  5. Menghadapkan orang yang sakaratul maut ke arah kiblat

C. Bimbingan Talqin Sakaratul Maut

  1. Mentalqinkan kalimat syahadat

Mentalqin orang yang akan meninggal dunia cukup sekali saja, tidak perlu diulang-ulang kecuali apabila setelah ditalqin dia mengucapkan kalimat yang lain maka hendaknya diulang sekali lagi agar akhir ucapannya adalah kalimat syahadat.

Ibnu Al Mubarak berkata : “Talqinlah orang yang akan meninggal dunia dengan kalimat ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ dan jika telah mengucapkannya maka jangan diulangi lagi” (Tadzkirah fi ahwalil mautaa wa umuril akhirah : 30, Imam Al Qurthubiy, cet : Daarul ‘Aqidah).

Mentalqin bisa juga dengan mengingatkan hadits tentang talqin. Imam al Qurthubiy mengatakan : “Dan kadang kala talqin dilakukan dengan menyebutkan hadits tentang talqin disisi seorang yang alim sebagaimana disebutkan oleh Abu Nu’aim bahwasanya Abu Zur’ah sedang dalam keadaan akan meninggal dunia dan di sisinya ada Abu Hatim, Muhammad bin Salamah, Mundzir bin Syaadzaan dan sekelompok ulama’ yang lainnya. Lalu mereka mengatakan, wahai sahabat-sahabat kami marilah kita mengingat-ingat kembali hadits tentang talqin. Abu Maslamah berkata : ‘Telah menceritakan kepada kami Adh Dhahak bin Makhlad, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim, ia berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih bin Abi Gharib …. dan Abu Masalamah tidak melanjutkan sementara yang lain diam. Berkata Abu Zur’ah sedangkan beliau dalam keadaan akan meninggal dunia : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih bin Abi Gharib dari Katsir bin Murrah al Hadhramiy dari Mu’ad bin Jabal berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah ‘Laa ilaaha illa Allah’ maka akan masuk surga”.

  1. Menghadapkannya ke arah kiblat. Ada 2 cara :
  • Tidur telentang sambil menghadapkan wajahnya ke arah kiblat
  • Berbaring miring ke kanan dan wajahnya menghadap ke arah kiblat

Selain mentalqinkan kalimat Laa ilaaha illa Allah ada hal lain yang dianjurkan untuk dilakukan, yaitu :

  • Mendo’akan kebaikan kepadanya dan tidaklah mengucapkan sesuatu di sisinya melainkan kebaikan.
  • Memberikan rasa tenang kepada orang yang akan meninggal dunia.

Daftar Pustaka

Materi Mentoring Fkep Unpad

Sulaeman, Munandar. 2012. Ilmu Budaya Dasar : Pengantar ke Arah Ilmu Sosial Budaya Dasar/ISBD/Social Culture. Bandung : PT Refika Aditama.

Fitria, Rafianti Nurfauziah. 2013. Bimbingan Sakaratul Maut Bagi Klien Muslim. Tersedia dalam : https://keperawatanreligionrafianti.wordpress.com/ (diakses pada tanggal : 16 Juni 2015).

Sari, Tindo. 2015. Peran perawat dalam membimbing ibadah bagi pasien. Tersedia dalam : https://www.academia.edu/9125508/Peran_Perawat_dalam_Membimbing_Ibadah_Bagi_Pasien (diakses pada tanggal 20 Juni 2015).

Yosep, Iyus. 2015. Transcendental Nursing. Microsoft Powerpoint. Universitas Padjdjaran : Fakultas Keperawatan.

Priyanda, Azmi. 2010. Peran Perawat Muslim dalam Sakaratul Maut Pasien. Tersedia dalam : http://www.scribd.com/doc/52832208/Peran-Perawat-Muslim-Dalam-Sakaratul-Maut (diakses pada tanggal 20 Juni 2015).

http://www.jadipintar.com/2013/10/Tata-Cara-Membimbing-Orang-Yang-Sedang-Sakaratul-Maut.html (diakses pada tanggal : 20 Juni 2015)

Tata Nilai Perawat : Care, Empathy, Altruism

Tata Nilai Perawat Care, Empathy, Altruism

Sampai saat ini, pandangan masyarakat Indonesia terhadap perawat masih kurang baik. Banyak yang menganggap bahwa perawat hanyalah sebagai pembantu dokter yang tugasnya hanya menyuntik, menginfus, memberikan obat pada pasien, membantu pasien ketika akan makan, minum, mandi, buang air, dan sebagainya. Hal ini dapat disebabkan karena ketidaktahuan masyarakat terhadap tugas seorang perawat yang sesungguhnya. Oleh karena itulah seorang perawat harus menunjukkan identitas dirinya, yaitu menunjukkan bahwa perawat bukan hanya membantu dokter tetapi juga memiliki tugas untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dan membantu penyembuhan pasien. Dalam hal ini perawat memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat besar, karena dalam melakukan asuhan keperawatan seorang perawat terkadang harus bisa menjadi seperti dokter, apoteker, psikiater, psikolog, menjadi teman curhat, bahkan menjadi pelampiasan kemarahan pasien. Oleh karena itu, perawat harus mengerti dan memahami kondisi pasien, baik kondisi fisik maupun psikisnya.

Dalam hal tersebut, seorang perawat harus memiliki sikap dan tata nilai perawat yang dapat mendukung pemberian asuhan dan pelayanan kesehatan pada pasien. Tata nilai tersebut meliputi care, emphaty, dan altruism.

Pengertian Nilai dan Tata Nilai

Nilai adalah sesuatu yang berharga, keyakinan terhadap sesuatu tentang baik dan buruk yang dipegang oleh seseorang atau sekelompok orang sesuai dengan tuntutan hati nurani. Setiap perawat memiliki nilai dan prilaku pribadi masing-masing. Kode etik profesi membawa perubahan perilaku personal kepada perilaku profesional yang menjadi pedoman dalam melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai anggota profesi. Perawat bekerja sama dengan tenaga medis lain (dokter, ahli gizi, tenaga farmasi, tenaga laboratorium, kesehatan lingkungan, dan sebagainya) untuk meningkatkan kesehatan, mengurangi penderitaan, dan menemukan pencapaian tujuan berdasarkan kebutuhan manusiawi.

Tata nilai adalah seperangkat nilai yang dijadikan pedoman untuk mengatur dan mengendalikan tingkah laku agar terhindar dari hal-hal negatif. Dalam keperawatan, tata nilai dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan asuhan keperawatan. Tata nilai perawat meliputi 3 hal, yaitu :

1. Caring

Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk berdedikasi terhadap orang lain, menunjukkan perhatian, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi yang merupakan kehendak keperawatan. Caring merupakan esensi dari keperawatan. Caring dalam keperawatan lebih dari sekedar peduli. Caring merupakan upaya untuk melindungi, meningkatkan, dan menjaga atau mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain, mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan keberadaannya serta membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri.

careCaring menjadi identitas dan bagian terpenting dalam praktik keperawatan. Sikap caring dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat menggunakan keahlian, kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada di samping klien, dan bersikap sebagai media pemberi asuhan (Carruth et al., 1999).

Tujuan Caring adalah:

  1. Membantu pelaksanaan rencana pengobatan atau terapi.
  2. Membantu pasien/klien beradaptasi dengan masalah kesehatannya.
  3. Membantu pasien/klien agar mandiri memenuhi kebutuhan dasarnya
  4. Membantu pasien/klien untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, dan/atau meningkatkan fungsi dari tubuhnya.
  5. Membantu pasien/klien dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mau menjadi mau, dan dari tidak mampu menjadi mampu.

Sikap seorang perawat yang berhubungan dengan caring adalah:

  1. Kehadiran

Saat sedang melakukan asuhan keperawatan, kehadiran kita sebagai perawat harus membuat klien merasa nyaman. Perawat harus dapat membina hubungan baik dengan klien, membina hubungan saling percaya antara perawat-klien, dan meningkatkan rasa sensitifitas atau kepekaan diri terhadap klien.

  1. Sentuhan

Sentuhan merupakan salah satu pendekatan atau komunikasi non verbal yang menenangkan dimana perawat dapat mendekatkan diri dengan klien untuk memberikan perhatian dan dukungan. Ada dua jenis sentuhan, yaitu sentuhan kontak dan sentuhan non-kontak. Sentuhan kontak merupakan sentuhan langsung kullit dengan kulit, misalnya dengan memegang tangan atau memijat punggung klien. Sedangkan sentuhan non-kontak merupakan sentuhan tanpa kontak fisik langsung dengan klien, misalnya kontak mata yang dapat memberikan kenyamanan bagi klien.

  1. Mendengarkan

Mendengarkan merupakan kunci untuk lebih mengerti dan memahami kebutuhan klien, sehingga perawat dapat membantu klien mencari cara untuk medapat kedamaian dan kenyamanan, serta dapat membantu proses penyembuhannya.

    1. Empathy

empati

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya di keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Empati merupakan kemampuan untuk mengerti sepenuhnya tentang kondisi atau perasaan orang lain; hal ini sering digambarkan sebagai suatu kemampuan untuk menempatkan diri sendiri dalam keadaan yang dialami oleh orang lain.

200221760-001

Empati berbeda dengan simpati yang menonjolkan perasaan atau emosi biasa terhadap orang lain, bukan memahami perasaan tersebut. Simpati tidak terapeutik dalam membantu hubungan, karena hal tersebut mengarah pada perasaan yang terlalu melibatkan emosional, dan berpotensi menyebabkan kerusakan hubungan professional. Empati lebih dari sekedar simpati. Simpati hanya merasakan apa yang orang lain rasakan. Sedangkan empati merupakan simpati yang disertai dengan keinginan untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi orang lain, baik dengan tindakan, ucapan, maupun perbuatan. Empati pada dasarnya terbentuk karena adanya keinginan untuk memberi perhatian dan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi klien. Sehingga empati pada diri seorang perawat secara tidak langsung akan mendekatkan hubungan emosional antara perawat dengan pasien, sehingga perawat tersebut akan senantiasa memberikan perawatan yang lebih baik dan membuat pasien/klien merasa lebih nyaman dan tenang dalam melaksanakan proses penyembuhan. Cara yang efektif untuk melakukan empati adalah dengan mengembangkan sikap ramah dan bersahabat.

empathy-quote

  1. Altruism

altruism1

Altruism merupakan suatu sifat dimana seseorang tidak egois, memiliki perasaan ingin menolong orang lain yang membutuhkan tanpa mengharap imbalan apapun dari orang yang ditolong. Altruism dapat diwujudkan dengan memberi perhatian kepada orang lain, merasa prihatin terhadap penderitaan/kesusahan orang lain, dan melakukan tindak lanjut dengan memberi bantuan, semangat, dukungan, dan motivasi.

Menurut Leeds ( Staub, 1978 ), tindakan dapat dikatakan altruism apabila memenuhi 3 kriteria, yaitu:

  1. Hasilnya baik bagi penolong maupun yang di tolong.
  2. Tindakan tersebut dilakukan secara sukarela, atas dasar empati bukan karena paksaan.
  3. Tindakan itu bukan untuk kepentingan diri sendiri.

altruism2

Dalam keperawatan, altruism merupakan salah satu sifat yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang perawat. Seorang perawat harus memiliki rasa ingin menolong yang tinggi tanpa pamrih. Artinya, perawat harus merawat dengan keikhlasan dan kasih sayang dalam melakukan asuhan keperawatan. Karena hal ini akan berdampak pada hasil yang harus dicapai, yaitu kesembuhan pasien/klien. Altruism tidak muncul begitu saja, maka sifat ini harus dibiasakan dengan terus menerus berlatih memberikan kasih sayang dan kebaikan kepada orang lain.

altruism

Daftar Pustaka 

Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik. Edisi 4. Volume 1. Jakarta: EGC. (Diakses pada tanggal 25 November 2014).

Mimin Emi Suhaemi. 2004. Etika Keperawatan: Aplikasi pada Praktik. Cetakan I. Jakarta: EGC. (Diakses pada tanggal 25 November 2014).

Sumartono. 2004. Komunikasi Kasih Sayang. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. (Diakses pada tanggal 25 November 2014).

Supartini, Yupi. 2002. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC. (Diakses pada tanggal 25 November 2014).

Sinaga, Ichaeva. 2010. “Persepsi Masyarakat tentang Perawat”. Dalam Kesehatan Kompasiana, 11 Oktober 2010. Jakarta. (Diakses pada tanggal 25 November 2014).

Wong, Donna L. dkk. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong, Ed. 6, Vol. 1. Cetakan I. Terjemahan Agus Sutarna dkk dari Wong’s Essentials of Pediatric Nursing, 6th Ed. 2001. Jakarta : EGC. (Diakses pada tanggal 03 Desember 2014).

http://kbbi.web.id/empati (Diakses pada tanggal 25 November 2014).

Respository.usu.ac.id (Diakses pada tanggal 25 November 2014).

Keperawatan.unsoed.ac.id (Diakses pada tanggal 25 November 2014).

eprints.unika.ac.id/1748/1/02.40.0036_Monika_Omega_S.A.W.pdf (Diakses pada tanggal 26 November 2014)

https://www.youtube.com/watch?v=GwkuAUe0_gU (Diakses pada tanggal 09 Desember 2014).
https://www.youtube.com/watch?v=cDDWvj_q-o8 (Diakses pada tanggal 09 Desember 2014).